Ad Code

Dari Buraidah RA, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Perjanjian antara kami dan mereka adalah shalat, maka barangsiapa meninggalkannya, maka sungguh ia telah kufur”. [HR. Khamsah, dalam Nailul Authar juz 1, hal. 343]

Mencari Ridha Allah SWT

Berikut adalah beberapa contoh hal yang menghalangi mendapatkan ridha Allah yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari:

Riya' (Pamer): Melakukan amal ibadah atau kebaikan bukan karena Allah semata, melainkan agar dilihat dan dipuji oleh manusia. Contohnya memperlama sujud saat shalat karena ada orang lain yang melihat. Harus nya Mempokuskan bacaan shalat karena sedang di perhatikan Allah.

Suma'ah: Beramal atau beribadah agar perbuatannya didengar oleh orang lain, lalu mendapatkan sanjungan. Harusnya ubah niat agar tertuju hanya kepada Allah.

Bersumpah dengan Selain Allah: Mengucapkan sumpah dengan menyebut nama makhluk, seperti demi Nabi, demi orang tua, atau demi kehormatan. demi hak fulan,  demi Al-Badawi, dan semisalnya. Dalam ajaran Islam, sumpah yang sah hanya boleh diucapkan dengan nama Allah.

Memakai Jimat: Menggantungkan atau memakai benda tertentu (seperti benang, batu, atau tulisan) dengan keyakinan bahwa benda tersebut bertindak sebagai perantara untuk menolak bala atau mendatangkan kebaikan, padahal yang memberi keselamatan hanyalah Allah.

Mengandalkan Sebab yang Tidak Sesuai Syariat: Mengaitkan suatu hasil atau kesembuhan secara mutlak pada sebab duniawi tanpa menyandarkannya kepada izin Allah. Contohnya berkata, "Aku sembuh karena obat ini," tanpa menyertakan keyakinan bahwa obat hanyalah perantara dan kesembuhan datang dari Allah.

Tathayyur (Percaya Kesialan): Menganggap suatu kejadian, hewan, atau waktu tertentu membawa sial. Contohnya mempercayai bahwa menabrak kucing atau melewati hari tertentu mendatangkan nasib buruk.

Juga termasuk dalam masalah ini adalah tathayyur, dimana seseorang merasa akan tertimpa sial ketika mendengar, melihat atau mengetahui sesuatu. Seperti telinga berdengung, kulit mata berdenyut, telapak tangan gatal-gatal, dan lainnya, Siapa saja yang menjadikan sesuatu sebagai sebab untuk meneruskan, atau tidak meneruskan sesuatu,

Kita jumpai sebagian manusia ketika dia mendengar suara yang tidak dia suka, atau melihat sesuatu yang tidak menyenangkannya, atau datang kabar buruk kepadanya, dia pun membatalkan untuk melakukan suatu perbuatan (rencana) tertentu atau membatalkan untuk melakukan safar (perjalanan jauh) atau semacam itu.

“Barangsiapa yang bersumpah dengan selain Allah, maka sungguh dia telah berbuat syirik.” [HR. Abu Dawud no. 3251, dinilai shahih oleh Al-Albani]

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah Ta’ala melarang kalian dari bersumpah dengan menyebut bapak-bapak kalian. Siapa saja yang ingin bersumpah, bersumpahlah dengan menyebut nama Allah, atau jika tidak, hendaknya dia diam.” [HR. Bukhari no. 6108]

“Barangsiapa yang menggantungkan jimat, sungguh dia telah berbuat syirik.” [ HR. Ahmad no. 17422]

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَلشِّرْكُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ، أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى شَيْءٍ إِذَا قُلْتَهُ ذَهَبَ عَنْكَ قَلِيلُهُ وَكَثِيرُهُ؟ قَالَ: (قُلِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُكَ لما لا أعلم

“Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya. Sungguh kemusyrikan itu lebih tersembunyi daripada jejak semut. Maukah kamu aku tunjukkan sesuatu yang jika Engkau ucapkan, maka akan hilang kemusyrikan darimu, baik sedikit ataupun banyak? Ucapkanlah, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari berbuat menyekutukanmu dalam kondisi aku mengetahuinya dan aku memohon ampun kepadamu dari apa yang aku tidak ketahui.” [HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, dinilai shahih oleh Al-Albani]

اللَّهُمَّ إِنّا أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُكَ لما لا أعلم

Allahumma innaa na’uudzubika an asyraka bika wa nahnu na’lamu, wa nastaghfiruka limaa la a’lamu

“Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari berbuat menyekutukanmu dalam kondisi aku mengetahuinya dan aku memohon ampun kepadamu dari apa yang aku tidak ketahui.”

“Wahai bani Adam, seandainya engkau datang kepada-Ku dengan dosa sepenuh bumi, sedangkan engkau ketika mati tidak menyekutukan Aku sedikit pun juga, pasti Aku akan berikan kepadamu ampunan sepenuh bumi pula.” (HR. At-Tirmidzi no. 3540)

“Aku berwasiat kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat, meskipun kalian dipimpin seorang budak. Sungguh, orang yang hidup di antara kalian sepeninggalku, ia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu, wajib atas kalian berpegang teguh pada sunahku dan sunah khulafaur rasyidin al-mahdiyyin (yang mendapatkan petunjuk dalam ilmu dan amal). Gigitlah sunah tersebut dengan gigi geraham kalian, serta jauhilah setiap perkara yang diada-adakan, karena setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi no. 2676. Ia berkata bahwa hadis ini hasan sahih. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadis ini sahih.)

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (QS. Al Kahfi: 110)

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)

“Barangsiapa yang menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (QS. An-Nisa: 80)

“Barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat.” (QS. Al-Baqarah: 256)

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendakiNya.” [An-Nisa/4′: 48]

اِنَّهٗ مَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّٰهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوٰىهُ النَّارُ ۗوَمَا لِلظّٰلِمِيْنَ مِنْ اَنْصَارٍ

“… Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya Surga, dan tempatnya ialah Neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” [Al-Ma’idah/5: 72]

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.” [Al-Baqarah/2: 165]

Sesungguhnya Allah mengharamkan atas Neraka orang yang mengucapkan laa ilaaha illalah karena menginginkan ridha Allah. [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Kesimpulan :

Ikhlas dalam niat: Melakukan setiap amal ibadah dan aktivitas semata-mata karena Allah, bukan untuk mencari pujian manusia.

Istiqamah: Konsisten dan teguh menjalankan ketaatan meskipun dalam jumlah yang sedikit.

Mendahulukan perintah Allah: Mengutamakan aturan agama di atas hawa nafsu dan kepentingan duniawi.

Ridha dengan ketetapan Allah: Menerima segala takdir, baik atau buruk, dengan lapang dada dan sabar. Mungkin hari ini kita minta kepada Allah dan Allah belum kasih karena itu bukan yang terbaik untuk kita tapi yang pasti Allah akan kasih lebih baik dari harapan kita.

Bergaul dengan orang saleh: Mencari lingkungan yang baik untuk saling mengingatkan dalam kebaikan dan menahan amarah

“Barangsiapa yang mencari keridhaan Allah sekalipun memperoleh kebencian manusia, Allah akan mencukupkan dia dari ketergantungan kepada manusia dan barangsiapa yang mencari keridhaan manusia dengan mendatangkan kemurkaan dari Allah, maka Allah akan membiarkannya bergantung kepada manusia (Allah tidak membantunya)”. (HR. Tirmidzi no. 2414 dan Ibnu Hibban no. 276. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Ad Code

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Islam itu terdiri atas lima rukun. Mengakui bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah, dan sesungguhnya Muhammat itu adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, hajji ke Baitullah dan puasa Ramadlan. [HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim, dalam Nailul Authar juz 1, hal. 333]