Pendahuluan
Merokok telah menjadi kebiasaan bagi sebagian orang. Ada yang merokok setelah makan, saat minum kopi, ketika bekerja, bahkan ketika sedang menghadapi masalah.
Namun, pernahkah kita berpikir bahwa tubuh yang kita gunakan untuk merokok adalah amanah dari Allah? Pernahkah kita memikirkan bahwa asap rokok bukan hanya dihirup oleh diri sendiri, tetapi juga oleh anak, istri, orang tua, dan orang-orang di sekitar kita?
Al-Qur'an dan hadis tidak menyebutkan rokok secara langsung. Tembakau dikenal setelah masa turunnya wahyu. Akan tetapi, para ulama menggunakan dalil umum tentang larangan membahayakan diri, menyakiti orang lain, dan menghamburkan harta untuk membahas hukum merokok.
1. Larangan Menjatuhkan Diri ke dalam Kebinasaan
Allah SWT berfirman:
وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
QS. Al-Baqarah: 195
Artinya:
"Dan infakkanlah hartamu di jalan Allah, dan janganlah kamu jatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri, dan berbuat baiklah. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik."
Ayat ini mengajarkan agar manusia tidak melakukan sesuatu yang membawa dirinya kepada kebinasaan. Merokok terbukti meningkatkan risiko berbagai penyakit, termasuk kanker paru-paru, penyakit jantung, stroke, dan gangguan pernapasan.
Pelajaran: Menjaga kesehatan merupakan bagian dari ikhtiar seorang Muslim dalam menjaga amanah Allah.
2. Larangan Membahayakan Diri Sendiri dan Orang Lain
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ
HR. Ibnu Majah no. 2340
Artinya:
"Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain."
Hadis ini menjadi salah satu kaidah penting dalam Islam. Asap rokok tidak hanya berdampak kepada orang yang merokok, tetapi juga dapat membahayakan orang lain yang menghirup asapnya.
Karena itu, seorang Muslim hendaknya tidak mengabaikan kesehatan dirinya maupun keselamatan orang-orang di sekitarnya.
3. Larangan Menghambur-hamburkan Harta
Allah SWT berfirman:
وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا
QS. Al-Isra': 26–27
Artinya:
"Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan hartamu secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan, dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya."
Uang yang digunakan untuk membeli rokok setiap hari, jika dikumpulkan, bisa menjadi jumlah yang besar. Uang tersebut dapat digunakan untuk kebutuhan keluarga, pendidikan anak, makanan bergizi, atau membantu orang yang membutuhkan.
4. Larangan Membunuh atau Merusak Diri Sendiri
Allah SWT berfirman:
وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا
QS. An-Nisa': 29
Artinya:
"Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu."
Ayat ini mengingatkan kita agar tidak melakukan sesuatu yang membahayakan kehidupan. Kebiasaan merokok yang terus berlangsung dapat merusak kesehatan secara perlahan.
5. Jangan Mengganggu Orang Lain dengan Bau yang Tidak Menyenangkan
Rasulullah ﷺ mengajarkan agar orang yang memakan bawang putih atau bawang merah tidak mendekati masjid apabila baunya mengganggu orang lain.
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.
Hadis tersebut bukan dalil langsung mengenai rokok, tetapi menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan kenyamanan orang lain. Asap dan bau rokok dapat mengganggu, bahkan paparan asapnya juga berisiko bagi kesehatan orang di sekitar.
6. Bagaimana Hukum Merokok dalam Islam?
Para ulama berbeda pendapat dalam menetapkan hukum rokok. Sebagian ulama terdahulu memakruhkan, sedangkan banyak ulama kontemporer dan lembaga fatwa mengharamkannya karena bahaya yang telah diketahui secara medis.
Di Indonesia, Majelis Ulama Indonesia dalam fatwa tahun 2009 menetapkan bahwa merokok haram bagi anak-anak, wanita hamil, dan merokok di tempat umum. Untuk keadaan lainnya, terdapat perbedaan pandangan dalam pembahasan hukumnya.
Kesimpulan halaman pertama:
Islam mengajarkan kita menjaga tubuh, tidak membahayakan orang lain, dan menggunakan harta dengan bijaksana. Karena rokok terbukti membawa bahaya kesehatan, meninggalkannya merupakan ikhtiar yang sangat baik bagi seorang Muslim.
Bagaimana Cara Berhenti Merokok?
Berhenti merokok bukan hanya persoalan kemauan. Nikotin dalam rokok dapat menyebabkan ketergantungan. Karena itu, seseorang mungkin merasa gelisah, sulit berkonsentrasi, atau mudah marah ketika mulai berhenti.
Namun, bukan berarti kebiasaan tersebut tidak bisa ditinggalkan. Dengan niat, usaha, doa, dukungan keluarga, dan bantuan kesehatan jika diperlukan, kita dapat berusaha melepaskan diri dari ketergantungan rokok.
1. Luruskan Niat karena Allah
Mulailah dengan niat yang kuat. Jangan hanya ingin berhenti karena harga rokok mahal atau karena orang lain melarang. Jadikan keinginan menjaga amanah tubuh dan melindungi keluarga sebagai alasan utama.
Tanamkan dalam hati:
"Ya Allah, aku ingin meninggalkan rokok karena ingin menjaga tubuh yang Engkau amanahkan kepadaku, melindungi keluargaku, dan menjalani hidup yang lebih sehat. Bantulah aku agar mampu istiqamah."
2. Tentukan Hari Berhenti Merokok
Pilih tanggal dalam waktu dekat untuk mulai berhenti total. Persiapkan diri sebelum hari tersebut.
- Singkirkan rokok, korek api, dan asbak.
- Hindari tempat yang biasanya membuat ingin merokok.
- Beri tahu keluarga dan teman bahwa kamu sedang berhenti merokok.
- Mintalah dukungan orang-orang terdekat.
- Jangan menyimpan rokok sebagai persediaan.
3. Kenali Waktu yang Membuat Ingin Merokok
Setiap orang memiliki pemicu yang berbeda. Ada yang ingin merokok setelah makan, saat minum kopi, ketika bekerja, atau saat sedang banyak pikiran.
Kenali kebiasaan tersebut, kemudian ganti dengan kegiatan yang lebih sehat.
| Kebiasaan Lama |
Pengganti |
| Merokok setelah makan |
Berjalan kaki sebentar |
| Merokok sambil minum kopi |
Minum air putih |
| Merokok saat stres |
Tarik napas perlahan dan berzikir |
| Merokok saat berkumpul |
Mengobrol tanpa rokok |
| Merokok ketika menganggur |
Membaca Al-Qur'an atau berolahraga |
4. Atasi Keinginan Merokok Ketika Datang
Saat keinginan merokok muncul, jangan langsung menuruti dorongan tersebut. Cobalah beberapa cara berikut:
- Tunda beberapa menit sebelum mengambil keputusan.
- Minum segelas air putih.
- Tarik napas perlahan dan keluarkan secara teratur.
- Kunyah permen karet tanpa gula.
- Berjalan kaki atau lakukan kegiatan ringan.
- Alihkan perhatian dengan membaca, berzikir, atau beraktivitas.
Keinginan merokok biasanya datang seperti gelombang: meningkat, kemudian perlahan mereda. Tidak semua keinginan harus dituruti.
5. Gunakan Bantuan Medis Jika Diperlukan
Jika merasa sulit berhenti sendiri, jangan malu mencari bantuan. Dokter atau apoteker dapat membantu menentukan cara yang sesuai.
- Terapi pengganti nikotin, seperti plester atau permen karet nikotin.
- Konseling berhenti merokok.
- Obat tertentu untuk membantu berhenti merokok sesuai penilaian dokter.
Kombinasi dukungan perilaku dan pengobatan dapat meningkatkan peluang keberhasilan. Jika memiliki penyakit tertentu atau sedang menggunakan obat lain, konsultasikan terlebih dahulu dengan tenaga kesehatan.
6. Jangan Menyerah Jika Pernah Kembali Merokok
Mungkin suatu hari kamu tergoda dan kembali mengisap rokok. Jangan langsung merasa gagal. Jangan pula berpikir bahwa semua usaha sebelumnya sia-sia.
Segera kembali pada niat awal. Pelajari apa yang menyebabkan kamu kembali merokok, kemudian perbaiki cara menghadapinya.
Yang terpenting adalah jangan berhenti berusaha. Setiap usaha untuk meninggalkan kebiasaan buruk merupakan langkah yang berharga.
7. Perbanyak Doa dan Memohon Pertolongan Allah
Salah satu doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ adalah:
اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَىٰ ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
HR. Abu Dawud dan An-Nasa'i
Artinya:
"Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya."
Berdoalah agar Allah memberikan kekuatan untuk meninggalkan kebiasaan yang merugikan. Iringi doa dengan usaha nyata dan kesungguhan.
8. Renungkan Apa yang Bisa Didapatkan Setelah Berhenti
- Tubuh mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki diri.
- Risiko berbagai penyakit akibat rokok akan berkurang seiring waktu.
- Keluarga tidak lagi terpapar asap rokok dari diri kita.
- Pengeluaran untuk membeli rokok dapat dialihkan ke kebutuhan yang lebih bermanfaat.
- Napas dan kebugaran dapat membaik.
- Kita memiliki kesempatan menjalani hidup yang lebih sehat.
Penutup: Jangan Menunggu Sakit untuk Berhenti
Saudaraku, mungkin sudah bertahun-tahun rokok menjadi bagian dari kehidupan. Mungkin tangan terasa belum lengkap jika belum memegang rokok setelah makan atau ketika minum kopi.
Namun, kebiasaan yang sudah lama bukan berarti tidak bisa diubah. Jangan menunggu sakit datang. Jangan menunggu keluarga memohon berkali-kali. Mulailah menjaga kesehatan dari sekarang.
Ingatlah bahwa tubuh adalah amanah dari Allah. Keluarga juga berhak mendapatkan lingkungan yang sehat. Uang yang kita miliki pun dapat digunakan untuk sesuatu yang lebih bermanfaat.
Renungan:
Berhenti merokok bukan sekadar meninggalkan sebatang rokok. Ini adalah usaha untuk menjaga amanah Allah, menyayangi keluarga, dan memperbaiki kualitas hidup.
Social Media