Allah berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَٰلِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّٰبِرِينَ
“Dan sungguh, Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 155)
Ujian Sering Datang Melalui Sesuatu yang Kita Cintai
Menarik untuk direnungkan, dalam ayat tersebut Allah menyebut beberapa bentuk ujian yang sangat dekat dengan kehidupan manusia: ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, kehilangan jiwa, dan berkurangnya hasil yang kita harapkan.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga mengenal banyak hal yang sangat berharga bagi manusia: harta, kesehatan, orang tua, pasangan, anak-anak, serta harapan dan masa depan.
Ketika salah satunya hilang, terkadang kita merasa seolah-olah sebagian hidup kita ikut runtuh.
Lalu muncul pertanyaan di dalam hati:
- “Ya Allah, mengapa harus ini yang terjadi?”
- “Mengapa harus dia yang pergi?”
- “Mengapa harus sekarang, ketika aku belum siap?”
Pertanyaan seperti itu bisa muncul ketika seseorang sedang berduka. Kesedihan bukan berarti kita tidak beriman. Kita manusia yang memiliki perasaan, dan kehilangan memang tidak selalu mudah diterima.
Ada Pelajaran yang Baru Kita Pahami Setelah Kehilangan
Dalam kehidupan, nasihat sering kali membuat kita mengerti, tetapi pengalaman dapat membuat kita benar-benar merasakan.
Kita tahu bahwa hidup ini sementara. Kita tahu bahwa kematian pasti datang. Kita juga tahu bahwa dunia bukan tempat tinggal yang abadi.
Namun, terkadang pengetahuan itu belum cukup mengubah cara kita menjalani kehidupan.
Sampai suatu hari kehilangan datang. Sampai hati merasakan kesedihan. Sampai sesuatu yang sangat kita cintai tidak lagi berada di sisi kita.
Kita tahu merokok berbahaya, tetapi sebagian orang baru benar-benar berusaha berhenti setelah mengalami gangguan kesehatan.
Kita tahu waktu bersama orang tua sangat berharga, tetapi terkadang kita baru menyadarinya ketika mereka telah tiada.
Kita tahu Allah adalah tempat kembali, tetapi terkadang kita baru sungguh-sungguh mendekat kepada-Nya setelah berbagai harapan dunia tidak berjalan seperti yang kita inginkan.
Bukan berarti kehilangan adalah satu-satunya jalan untuk berubah. Namun, pengalaman pahit terkadang menyadarkan manusia tentang sesuatu yang selama ini ia abaikan.
Ada pelajaran yang tidak mudah kita pahami hanya melalui seribu nasihat. Ada pula pelajaran yang baru terasa begitu dalam ketika kita mengalaminya sendiri.
Jangan Mengira Ujian Berarti Allah Membenci Kita
Allah mengingatkan bahwa kehidupan manusia memang akan dipenuhi ujian. Namun, ujian bukan alasan untuk berputus asa dari rahmat-Nya.
Allah berfirman:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
(QS. Asy-Syarh: 5–6)
Perhatikan, Allah tidak mengatakan bahwa manusia tidak akan mengalami kesulitan. Akan tetapi, Allah memberikan harapan bahwa bersama kesulitan terdapat kemudahan.
Mungkin sesuatu yang kita cintai harus pergi. Mungkin rencana yang kita susun tidak menjadi kenyataan. Mungkin doa yang kita panjatkan belum terwujud sesuai keinginan.
Namun, jangan sampai kehilangan membuat kita kehilangan Allah.
Jangan sampai kesedihan menjauhkan kita dari salat. Jangan sampai kekecewaan membuat kita berhenti berdoa. Justru ketika dunia terasa semakin berat, saat itulah kita perlu semakin mendekat kepada-Nya.
Jadikan Kehilangan sebagai Jalan untuk Memperbaiki Diri
Maka jangan heran jika sebagian ujian terbesar terasa begitu berat karena menyentuh sesuatu yang paling kita cintai.
Namun, kita juga harus ingat: tidak semua kehilangan dapat langsung kita pahami hikmahnya. Ada kesedihan yang membutuhkan waktu untuk pulih. Ada luka yang tidak bisa sembuh hanya dengan kata-kata.
Tetaplah bersabar, berdoa, dan berusaha memperbaiki diri.
Sayangi orang tua selagi masih ada. Hargai pasangan dan anak-anak. Gunakan kesehatan untuk beribadah. Manfaatkan harta untuk kebaikan. Jangan menunda taubat dan jangan menunggu kehilangan untuk kembali kepada Allah.
Sebab pada akhirnya, semua yang kita miliki hanyalah titipan. Kita datang ke dunia tanpa membawa apa-apa, dan kelak kita akan kembali kepada Allah dengan membawa amal perbuatan kita.
Jangan menunggu kehilangan untuk menyadari betapa berharganya sesuatu. Jangan menunggu hati hancur untuk kembali kepada Allah. Selagi masih diberi kesempatan, perbaikilah diri dan dekatkanlah hati kepada-Nya.
Ya Allah, kuatkanlah hati kami dalam menghadapi setiap ujian.
Jangan biarkan kehilangan menjauhkan kami dari-Mu. Jadikan setiap kesulitan sebagai jalan untuk semakin mengenal-Mu, semakin bersyukur, dan semakin taat kepada-Mu. Aamiin.
Ya Allah jadikan kami hamba-hamba yang sabar, bersyukur, dan selalu kembali kepada-Mu.

Social Media