Ad Code

Dari Buraidah RA, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Perjanjian antara kami dan mereka adalah shalat, maka barangsiapa meninggalkannya, maka sungguh ia telah kufur”. [HR. Khamsah, dalam Nailul Authar juz 1, hal. 343]

"Paksakan dirimu Shalat sampai kamu gelisah ketika meninggalkannya"

Celaka Orang yang Shalat

CELAKA ORANG YANG SHALAT

Peringatan Allah bagi orang yang lalai terhadap salatnya

PENDAHULUAN: SALAT BUKAN SEKADAR GERAKAN

Salat merupakan kewajiban yang sangat besar dalam Islam. Salat adalah bentuk penghambaan seorang hamba kepada Allah. Namun, Al-Qur'an memberikan peringatan keras bahwa ada orang yang mengerjakan salat, tetapi tetap mendapatkan ancaman kecelakaan. Mengapa demikian? Karena salat bukan hanya tentang berdiri, rukuk, dan sujud. Salat harus dilakukan dengan ikhlas, menjaga waktu, memenuhi ketentuan-ketentuannya, dan disertai kesadaran bahwa kita sedang menghadap Allah.

1. DALIL PALING KUAT: SURAH AL-MA'UN AYAT 4–7

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ ۝٤
الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ۝٥
الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ ۝٦
وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ ۝٧
Artinya:
4. Maka celakalah orang-orang yang melaksanakan salat,
5. (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya,
6. yang berbuat ria,
7. dan enggan memberikan bantuan.
(QS. Al-Ma'un: 4–7) Perhatikan baik-baik. Allah menggunakan kata فَوَيْلٌ (Fawailun), yang merupakan ancaman keras berupa kecelakaan dan azab. Siapakah yang mendapat ancaman tersebut? 1. Orang yang lalai dan meremehkan salatnya. 2. Orang yang mengerjakan salat karena ingin dilihat dan dipuji manusia. 3. Orang yang tidak memiliki kepedulian terhadap orang lain, bahkan enggan memberikan bantuan sederhana. Ayat ini bukan berarti setiap orang yang pikirannya sesekali melayang ketika salat langsung termasuk golongan tersebut. Yang diperingatkan adalah sikap lalai dan meremehkan salat.

2. DALIL ORANG YANG SALAT DENGAN MALAS DAN RIYA

وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا
Artinya:
"Apabila mereka berdiri untuk salat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud ria (ingin dipuji) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali."
(QS. An-Nisa: 142) Ayat ini menjelaskan salah satu sifat orang munafik: mereka melaksanakan salat dengan malas, bukan karena mengharap rida Allah, tetapi untuk memperlihatkan diri kepada manusia. Salat seharusnya menjadi bukti keikhlasan, bukan pertunjukan untuk mendapatkan pujian.

3. DALIL TENTANG ORANG YANG MENYIA-NYIAKAN SALAT

فَخَلَفَ مِنۢ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا
Artinya:
"Kemudian datanglah setelah mereka pengganti yang menyia-nyiakan salat dan mengikuti keinginannya, maka mereka kelak akan tersesat."
(QS. Maryam: 59) Ayat ini memberikan peringatan kepada orang-orang yang menyia-nyiakan salat dan lebih mengikuti hawa nafsunya. Jangan sampai kesibukan dunia, pekerjaan, harta, dan kesenangan membuat kita melupakan kewajiban kepada Allah.

4. HADIS SAHIH TENTANG BAHAYA MENINGGALKAN SALAT

Rasulullah ﷺ bersabda:
بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلَاةِ
Artinya:
"Pembatas antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan salat."
(HR. Muslim no. 82) Hadis ini menunjukkan betapa beratnya perkara meninggalkan salat. Para ulama membahas secara terperinci hukum orang yang meninggalkan salat, termasuk perbedaan antara mengingkari kewajibannya dan meninggalkannya karena malas. Karena itu, jangan pernah meremehkan kewajiban salat.

5. APAKAH SALAT KITA SUDAH BENAR?

Mari kita bertanya kepada diri sendiri dengan jujur: 1. Apakah kita menjaga salat lima waktu? 2. Apakah kita sengaja menunda salat tanpa alasan yang dibenarkan? 3. Apakah kita salat hanya ketika dilihat orang lain? 4. Apakah kita memperhatikan bacaan, rukuk, dan sujud dengan benar? 5. Apakah kita berusaha memahami makna bacaan salat? 6. Apakah setelah salat kita berusaha menjauhi perbuatan dosa? Salat bukan sekadar kewajiban yang ingin segera diselesaikan. Salat adalah pertemuan seorang hamba dengan Rabb-nya dalam bentuk ibadah.

6. TANDA SALAT YANG HARUS KITA PERBAIKI

Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan: • Menjaga waktu salat.
Jangan sengaja menunda-nunda salat hingga keluar waktunya. • Meluruskan niat.
Salatlah karena Allah, bukan karena ingin dipuji manusia. • Menjaga tuma'ninah.
Jangan terburu-buru dalam rukuk, iktidal, sujud, dan duduk di antara dua sujud. • Berusaha khusyuk.
Hadirkan kesadaran bahwa kita sedang menghadap Allah. • Memperbaiki akhlak.
Jangan sampai rajin salat tetapi tetap menyakiti, menipu, dan merugikan orang lain.

7. KESIMPULAN: JANGAN MERASA AMAN DENGAN SALAT KITA

Surah Al-Ma'un mengingatkan bahwa ada orang yang mengerjakan salat tetapi mendapat ancaman celaka karena kelalaiannya, riya, dan buruknya kepedulian terhadap sesama. Maka jangan hanya bertanya, "Apakah saya sudah salat?" Tetapi tanyakan juga: "Apakah saya sudah menjaga salat dengan benar? Apakah saya salat karena Allah? Apakah salat saya membawa perubahan dalam kehidupan saya?" Jangan sampai tubuh kita berdiri dalam salat, tetapi hati kita jauh dari mengingat Allah.

DOA MEMOHON PERTOLONGAN ALLAH

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ
Artinya:
"Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan salat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku."
(QS. Ibrahim: 40) Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang menjaga salat, ikhlas dalam beribadah, khusyuk ketika menghadap-Nya, dan tidak termasuk orang-orang yang lalai. Aamiin ya Rabbal 'alamin.

Semoga tulisan ini menjadi pengingat bagi diri kita sendiri sebelum menjadi nasihat bagi orang lain.

Halaman 1 dari 2
📘 Mulailah dari Memperbaiki Shalat . Ringkasan Shalat Sesuai Sunnah

Ad Code

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Islam itu terdiri atas lima rukun. Mengakui bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah, dan sesungguhnya Muhammat itu adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, hajji ke Baitullah dan puasa Ramadlan. [HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim, dalam Nailul Authar juz 1, hal. 333]